Berangkat ke Seoul Berdua Adara.

Kali ini cerita tentang #MomenPertama kami, saya dan Adara pergi berdua ke Seoul. Menyusul Bapak yang sedang tugas di sana beberapa hari.

Awalnya saya masih ragu saat suami mengajak untuk menyusul ke Seoul, “Ibu nyusul Bapak ya setelah agenda kerjaan selesai, berani nggak berdua Yaya?” langsung saya jawab “Kalau sama Yaya aja berdua Ibu kayaknya nggak berani deh, anaknya lagi aktif banget gini”. Tapi saat bilang gitu saya mikir dan merasa tertantang :p gimana nggak menantang, diajak nyusulya ke Seoul hehe dan sampe kebawa pikiran seminggu, suamipun masih kekeh nawarin lagi “Ibu beneran nggak mau nyusul?” saya juga masih kekeh “nggak deh Bapak”, Billy kemudian bilang lagi “biar sekalian diurus juga visanya kalau Ibu sama Adara jadi ikut. Saya tetep dengan jawaban enggak (enggak yang sambil ngarep mau tapi masih takut juga hehe).  Sampai H-10 hari Billy berangkat ke Tokyo akhirnya saya bilang, “Ibu jadi deh nyusul Bapak”. Hari itu juga saya dan Billy langsung ngecek jadwal pesawat Jakarta-Seoul dan menghubungi tour travel untuk mengurus visanya.

Saya dan Adara dapat penerbangan GA pukul 23.30 WIB direct flight Incheon International Airport Seoul. Sambil deg-degan visa keluar apa nggak karena bikinnya mepet, ternyata Tuhan punya kehendak lain, saya memang ditantang untuk berani pergi berdua Adara, yang kemudian jadi pengalaman dan cerita seru kami berdua, ya just me and my daughter.

Flight jam 23.30 WIB artinya saya berharap Adara tidur dan nggak terbangun diatas pesawat karena biasanya juga jam tidur Adara itu paling malam (kalau nggak tidur siang) jam 8 malam. Kemudian planningnya begini; jam 8 malam berangkat dari rumah (naik uber), Adara tertidur di jalan dan bablas sampai naik pesawat. Pun jika sesekali terbangun ya hanya nenen lalu terlelap lagi. Beberapa hari sebelumnya saya juga sudah bilang ke Adara bahwa kita berdua akan naik pesawat berdua nggak sama Bapak, dan memintanya untuk bersahabat selama perjalanan.

Siapa sangka ternyata bukan saja bersahabat, Adara sangat kooperatif selama perjalanan dan mudah untuk diberi pengertian. Terima kasih, Nak!

Ya, Adara tertidur saat perjalanan ke bandara, sudah saya gendong dengan baby carrier. Check in, imigirasi dan sampai ruang tunggu semua berjalan sesuai rencana. Saya hanya bawa backpack dan baby carrier, koper dan stroller masuk bagasi. Jam 9 lewat 15 menit kami sudah di ruang tunggu, sambil melipir minum kopi dan makan mie. Belum habis makanan saya Adara terbangun, nggak nangis sih cuma sedikit protes minta turun nggak mau digendong, lalu saya mengajaknya lihat-lihat buku sambil mencoba merayunya untuk mau digendong lagi dan tidur. Masih 1,5 jam lagi boarding, saya khawatir Adara masih belum mau tidur saat dipesawat. Diajak lihat buku-buku malah seger, nyebutin semua gambar hewan yang diliatnya. Pikir saya, yaudah biar saja kalau belum mau tidur, mungkin dengan aktivitas ini bikin dia capek dan nyenyak boboknya nanti. Yaudah lanjut saya ajak main di playground. Seger loh! Malah ngajak Ibunya lari-lari :D

Boarding time, kami dapat seat paling depan dan window. Sayangnya karna paling depan dan cuma 2 seat malah bingung nanti tidurnya gimana, karna baby basinet udah nggak muat. Jadi saja saya minta pindah sama pramugari di seat kosong yang bisa tidur selonjoran. Puji Tuhan dapet 4 seat kosong. Amunisi seperti selimut, essential oil saya siapkan. Ini Adara masih bangun loh ya, malah sebelum pindah tempat duduk dia lari-lari di dalam pesawat. Ibu mulai cemas :p. Persiapan take off Adara nonton, seneng banget ada film Boss Baby yang bikin Adara bisa duduk manis nontonya. Nggak lama setelah take off lalu minta nenen, langusng tertidur dan saya rebahkan dikursi. Sambil berdoa semoga perjalanan lancar dan selamat tiba di Seoul. Dalam perjalanan Adara terbangun sekali, saya kasih nenen lalu tidur lagi. 



Sampailah jam 6 pagi waktu setempat, lampu cabin menyala, pramugari sudah bersiap menghidangkan sarapan. Bersamaan dengan itu Adara terbangun (padahal masih berharap Adara bobok cantik sampai tanda landing) apa boleh buat, sayapun menyiapkan kemungkinan-kemungkinan kalau Adara “rewel”. Film Boss Baby disiapkan, roti isi coklat yang dibawa dari rumah berbentuk hewan juga sudah dikeluarkan. Adara bangun tanpa drama.

Saat sarapan saya coba menyuapi nasi yang saya punya, Adara menolak, roti bentuk hewan miliknya juga nggak dimakan. Saya tawari air putih Nak?, “no Ibu”, roti? “no no” Adara mau sarapan apa? Dia hanya geleng-geleng kepala saja.

Waktu masih menunjukan pukul 06.30 am yang artinya masih 2 jam lagi baru sampai Seoul. Dalam hati mah cuma berdoa supaya Adara tetep kalem di 2 jam terakhir penerbangan kita.
Boss Baby nggak bertahan lama. Bahkan sempat merengek dan bilang “Yaya mau puang aja”, “Mau tuyun aja”. Cari cara lain, sambil saya ajak nemenin buang air kecil, eh malah nggak mau balik ke kursi minta jalan-jalan dipesawat (lagi). Gedget nggak manjur, Boss Baby sudah bosan. Kemudiaan memutar otak lalu main coloring dari tv. Seneng tuh, anteng dan lupa dengan kemauannya wara-wiri di cabin. Sampai akhirnya minta nenen, liat video di handphone saya dan waktu landingpun datang.

Kalau doa yang dikabulkan itu butuh waktu dan panjang sabar, sedangkan rejeki itu sudah diatur masing-masing sama Sang Empunya Semesta. Adara sudah siap diatas baby carier, begitu pintu pesawat buka, saya ngacir keluar, dikira rombongan menteri jadi keluar duluan deh diantara penumpang yang lain. Rejeki emang nggak kemana ya :D keluar duluan, dan dapet semacam priority di pemeriksaan imigrasi (yang dikira rombongan menteri itu hehe). Nunggu bagasi dan bergegas cari taxi ke hotel tempat Bapak menginap. Seoul Plaza Hotel di depan Seoul City Hall yang biaya taxinya kesana dari Incheon mencapai 48.000 WON setara 500.000 RUPIAH. Adara tetap kalem bahkan tertidur sendiri di taxi. Bapak baru bisa bergabung dengan kami besok sore. Jadilah saya dan Adara kencan, makan siang, malam, sarapan besok paginya, makan siang lagi dan nemenin ngopi dan sightseeing lalu sorenya Bapak bergabung.






Tak ada drama yang berarti, justru ketagihan loh trip bareng anak gadisku ini.


Anyway, saat saya bilang “nggak berani” pergi berdua Adara, itu tuh bukan karena cemas keaktifannya dan kalau rewelnya Adara aja, tapi lebih dari itu…. saya sebenernya lumayan takut naik pesawat :D

**

Ps: Adara, kalau kamu baca tulisan ini nanti, ingatlah bahwa Ibumu ini keringat dingin saat turbulence cukup lama diatas pesawat dan kamu tertidur pulas sekali : )


Comments